fbpx

Di awal tahun 2020, perkembangan ekonomi kreatif dan Startup semakin menjadi trend yang diminati oleh banyak anak muda. Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa Startup sangat identik dengan millennial dan fleksibilitasnya, misalnya dari cara berpakaian, jam kerja dan juga bebas dalam menyuarakan ide serta gagasannya. Berbagai hal menarik dan label keren jika bekerja di Startup terlihat sangat menggiurkan bagi anak muda untuk berbondong-bondong bekerja di Startup atau membangun Startup sendiri.

Asep Suryana, selaku COO sekaligus Co-Founder PrivatQ.co.id berbagi cerita tentang suka duka dalam merintis Startup pada Sabtu, 29 Februari 2020. Acara yang bertajuk “Get Up, Startup” diadakan di Mni Teather Universitas Alma Ata merupakan event kolaborasi antara Logine dan Himpunan Mahasiswa Informatika Universitas Alma Ata.

“Digitalisasi semakin hari memang semakin maju, setiap hari selalu ada hal baru yang diciptakan. Ini menandakan memang dunia bergerak begitu dinamis. Saya dan tim  dengan background yang bermacam-macam, ada yang anak Finance, IT Engineer, Media dan lainnya tapi memiliki value dan tujuan yang sama yaitu ingin memberikan manfaat yang lebih untuk orang-orang yang ada di sekitar kami. Hal ini yang melatarbelakangi lahirnya PrivatQ. Bagi kami pendidikan adalah masalah yang besar di Indonesia. Seperti pemerataan pendidikan, kualitas pendidikan dan bahkan kesejahteraan bagi para tenaga pendidik sendiri. Sedangkan pendidikan merupakan pilar yang penting untuk membangun peradaban. Dengan adanya generasi yang memiliki kualitas pendidikan yang baik maka akan maju juga peradaban, kesejahteraan di Indonesia” papar Asep.

Tema Get Up Startup diangkat dengan harapan anak-anak muda yang memiliki mimpi untuk bekerja di Startup atau membangun Startup-nya sendiri memiliki gambaran dan persiapan yang lebih matang, tidak hanya mengikuti trend yang sedang hype agar terlihat keren saja tapi memang memiliki tujuan, memiliki impact untuk masyarakat. Sebab tantangan yang ada di lapangan pada kenyataannya tidak akan pernah mulus. Dari mengolah ide agar menjadi solusi dari persoalan yang ada di masyarakat dan produknya dikenal orang, perjalanannya sangatlah panjang. “Kalau bikin Startup hanya untuk titel CEO atau founder, mendingan nggak usah aja deh. Soalnya kenyataan yang akan kalian hadapi jauh lebih besar. Kalian harus siap dengan semua konsekuensinya, misal kerja jadi karyawan kalian harus kerja 8-9 jam sehari, nah jadi CEO apalagi di Startup harus siap kerja 24/7 bahkan pengennya sehari lebih dari 24 jam. Bisa jadi jam 2 pagi harus siap dihubungi saat ada emergency issue.” jelasnya pada sesi diskusi dan tanya jawab.

Hal yang harus diperhatikan di kemajuan teknologi saat ini adalah teknologi adalah tools atau alat yang dibuat untuk memudahkan pekerjaan manusia, bukan alat yang dibuat untuk menggantikan manusia. “Produk teknologi bukanlah hasil akhirnya, hasil akhirnya ya tetap kemudahan yang bisa diakses untuk manusia dan hal-hal sosial kemanusiaan. Oleh sebab itu PrivatQ juga mengembangkan aplikasi untuk pendukung layanan belajar yang menghubungkan dan memudahkan siswa mendapatkan guru les privat sesuai kebutuhannya. Sedangkan untuk proses belajarnya tetap dengan tatap muka, dan komunikasi dua arah”.

Di kesempatan ini, Asep tidak hanya bercerita tentang perkembangan atau juga kesuksesan, tetapi juga hambatan dan tantangan yang dihadapi bersama team PrivatQ sepanjang perjalanannya dari tahun 2017. Hal ini dilakukan agar anak-anak muda menjadi realistis dan bisa memiliki bekal yang lebih matang untuk merealisasikan mimpinya. Sesi diskusi dilanjutkan dengan tanya jawab dengan peserta yaitu mahasiswa HIMATIKA. Di akhir acara Asep menyampaikan “Hal yang perlu ditekankan agar tidak menyerah dalam perjalanan adalah selalu bersyukur dan berusaha lebih baik dengan melakukan evaluasi serta mencoba berbagai bisnis model untuk menemukan formula yang pas agar bisnis tetap berjalan. Bukan hanya pasrah dengan keadaan saat menemui hambatan dan tantangan kemudian menyerah.”