Program Seventh Education dari PrivatQ menyediakan metode belajar kelompok secara tradisional untuk menjangkau berbagai kalangan siswa-siswi di Indonesia.

Kami dari PrivatQ mengumumkan layanan terbaru kami yang disebut Seventh Education. Berbeda dengan layanan aplikasi PrivatQ yang menghubungkan guru les dan siswa-siswi yang ingin belajar privat, Seventh Education memiliki layanan dengan konsep kelompok belajar yang terdiri dari empat hingga delapan orang siswa.

Seventh Education merupakan sebuah belajar kelompok tradisional atau offline yang bertindak sebagai pelengkap dari layanan utama PrivatQ yang bertujuan untuk menyediakan pendidikan yang lebih inklusif, akomodatif, dan komprehensif melalui metode belajar kelompok. Layanan ini memiliki target siswa-siswi SD, SMP, dan SMA, yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendidikan informal, namun juga untuk membantu mereka yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses pendidikan informal.

Program Seventh Education sebelumnya telah diujicobakan di Sukoharjo, dan dalam bulan depan (Mei 2018) akan segera diluncurkan untuk daerah Jakarta. Semenjak diresmikan pada Februari lalu, program Seventh Education telah menggaet hingga 200 siswa-siswi untuk daerah Sukoharjo sendiri.

Melalui Seventh Education, PrivatQ berharap mampu menjadi salah satu pemain untuk membantu mewujudkan Sustainable Development Goals (SDG) #4, yakni akses pendidikan bagi semua lapisan masyarakat, di Indonesia. Oleh karena itu Seventh Education memberikan kesempatan bagi para siswa yang termasuk dari tiga (3) golongan penerima, yakni Anak Yatim, Golongan Kurang Mampu, dan Penghafal Kitab Suci, untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan belajar kelompok.

Berikut skema penjelasan mengenai program Seventh Education:

Les Privat atau yang juga merupakan bagian dari shadow education memiliki peminat yang besar, terutama di kalangan orangtua, walaupun hal ini jarang tampak di permukaan. Dalam laporan Global Private Tutoring Market 2016-2020 disebutkan bahwa pasar les privat (private tutoring) akan tumbuh hingga 6.76% dalam skala CAGR antara tahun 2016-2020. Sebelumnya menurut laporan yang dikeluarkan oleh Journal of Educational Research Online Vol. 6 tahun 2014, juga disebutkan bahwa tingkat partisipasi akan les privat sangatlah besar terutama di negara Eropa Timur, Afrika, dan Asia, yang mencapai angka hingga 50%. Namun sayangnya, kebanyakan mereka yang dapat menikmati layanan les privat adalah mereka yang berasal dari kalangan menengah ke atas.

“Kami dari PrivatQ percaya bahwa pembelajaran privat memiliki manfaat yang besar terutama bagi siswa yang nyaman dengan suasana belajar one-on-one dengan sang guru. Namun kami juga ingin mengakomodasi siswa-siswi yang juga nyaman dengan suasana belajar kelompok, karena target kami di PrivatQ adalah memberikan pendidikan bagi semua siswa-siswi, terlepas dari preferensi belajarnya seperti apa. Untuk itulah, kami mencanangkan model pembelajaran baru yang kami namakan Seventh Education,” ujar Ikhwan Catur Rahmawan, CEO dari PrivatQ.

PrivatQ pertama kali meluncurkan produk aplikasinya pada tanggal 17 September 2017 lalu di Yogyakarta, yang mengedepankan model belajar privat on-the-go sebagai produk utama, dengan cara memesan tentor atau guru privat melalui aplikasi PrivatQ. Hingga saat ini, PrivatQ telah memiliki hingga 1,500 orang pengguna. Selain aplikasi, PrivatQ juga membuka layanan via telepon dan SMS, diperuntukkan bagi mereka yang kesulitan untuk mendapatkan akses internet, terutama bagi daerah yang belum memiliki koneksi internet yang stabil.

“Akses pendidikan saat ini memang masih terbilang sulit untuk dijangkau oleh semua kalangan, terutama bagi golongan kurang mampu. Melalui Seventh Education, kami ingin mendorong siswa-siswi untuk saling berbagi pendidikan dengan mereka yang kurang beruntung. Dengan metode belajar kelompok, siswa-siswi pun bisa saling berinteraksi dengan sang tentor guna menciptakan suasana belajar yang nyaman. Secara tidak langsung kami turut menyampaikan pesan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin tidak harus dimulai disaat mereka telah bekerja, namun dengan membantu mereka yang membutuhkan pun sudah bisa menjadi bibit yang baik untuk menumbuhkan kualitas seorang pemimpin yang baik,” tutup Asep Suryana, COO dari PrivatQ.